Selasa, 13 April 2010

Hakikat Peserta Didik

Peserta Didik; Hakekat dan Perkembangannya
Oleh.. Muhammad Fahri

Dalam lingkup pendidikan ada tiga unsur yang sangat erat berkaitan yaitu: pendidik ( المعـلم ), peserta didik ( المتعـلم ) dan ( العـلم )ilmu pengetahuan itu sendiri yang merupakan objek dari apa yang diajarkan atau diusahakan dari pendidik kepada peserta didik.
Pengertian diatas sejalan dengan definisi yang dikemukakan Ahmad D. Marimba yaitu “Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”.[1]

Peserta didik dalam pendidikan Islam hakekatnya adalah setiap manusia yang sepanjang hayat selalu berada dalam perkembangan untuk menuju kepada suatu kesempurnaan.
Dalam alam pikiran Barat persoalan hakekat peserta didik termasuk dalam topik bahasan tentang faktor turunan atau warisan (heredity) dan faktor lingkungan (environment). Sehingga pandangan tersebut melahirkan tiga aliran sebagai berikut:

Empirisme. John Locke (1632-1704) yang mempelopori aliran ini mengajarkan bahwa perkembangan pribadi ditentukan oleh faktor lingkungan terutama pendidikan.
Nativisme. Arthur Schopenhauer (1788-1860). Ia berpandangan bahwa faktor pembawaan yang bersifat kodrati dari kelahiran dan tidak dapat diubah oleh pengaruh alam sekitar atau pendidikan itulah kepribadian manusia
Convergensi.William Stern (1871-1938). Perkembangan pribadi sesungguhnya adalah hasil proses kerjasama antara dua faktor; warisan (keturunan) dan lingkungan, dengan kata lain setiap individual merupakan hasil konvergensi dua faktor tersebut.[2]

Di kalangan ulama klasik yang menyinggung masalah kedua faktor diatas adalah Ibnu Miskawaih, mengemukakan dua pandangan yang ekstrem yaitu: Pertama, pandangan yang menyatakan bahwa manusia secara alami adalah baik, dan bisa berubah menjadi buruk karena faktor lingkungan. Kedua, pandangan yang menyatakan bahwa manusia secara alami adalah buruk dan bisa menjadi baik karena faktor lingkungan.
Para ahli pendidikan Islam pun terlibat dalam pembahasan tentang faktor warisan dan lingkungan yang sering dihubungkan dengan istilah (fitrah dan biah).
Faktor fitrah merupakan faktor yang ada pada diri pribadi dan merupakan faktor bawaan atau turunan dengan istilah lain merupakan faktor internal. Sedangkan faktor lingkungan banyak dipengaruhi oleh alam sekitar, bukan berasal dari faktor warisan, atau dapat diistilahkan sebagai faktor eksternal. Untuk lebih memperjelas kedua faktor tersebut, akan diuraikan sebagai berikut.

1. Faktor warisan/keturunan (fitrah)
Kata fitrah berakar pada kata al fathru yang berarti mengadakan dan menciptakan. Fitrah Allah pada manusia berarti pengadaan dan penciptaan yang dilakukan Allah terhadap manusia dalam suatu jenis ciptaan tertentu yang memungkinkannya untuk melakukan suatu perbuatan atau mencapai suatu tujuan tertentu. Allah berfirman:

Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang Telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, Kemudian memberinya petunjuk. (Q.s.Thaha : 50)

Allah yang telah memberikan manusia akal, instink (naluri) dan kodrat alamiyah untuk kelanjutan dan kesinambungan kehidupan manusia. Sehingga akal, naluri serta kodrat alamiyah merupakan fitrah yang diberikan Allah kepada manusia. Dalam ayat yang lain Allah berfirman:


(Tuhan) yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman. (Q.s. al A’la : 2-5)


Agama disebut fitrah karena merupakan dasar dasar teoritis dan aturan-aturan praktis, jalan hidup yang dapat menjamin kebahagiaan yang hakiki manusia sebagai tujuan perkembangan martabat insani. Oleh karena itu agama merupakan tuntutan fitrah sehingga tidak boleh berpaling ataupun diubah. Allah menjelaskan:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Q.s. al Ruum : 30)


Fitrah Allah yang dimaksud diatas adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Islam merupakan agama tauhid, Maka Islam disebut juga agama fitrah karena merupakan jalan hidup (way of life) yang dikehendaki dan ditunjukan oleh fitrah manusia. Sebab, di dalam Islam terkandung pengertian penyerahan hamba kepada kehendak Allah swt. Dan fitrah manusia itu sesuai dengan kehendak-Nya.

2. Faktor lingkungan (Bi’ah) dalam Perkembangan Pribadi
Manusia menurut fitrahnya adalah makhluk jasmani dan rohani. Dalam perkembangan pribadinya menuju martabat manusia, ada dua faktor yang mempengaruhi: faktor warisan dan faktor lingkungan. Yang dimaksud dengan faktor warisan adalah keadaan yang dibawa manusia sejak lahir yang diperoleh dari orang tuanya, seperti warna kulit, bentuk kepala, dan temperamen. Sedangkan yang dimaksud faktor lingkungan adalah keadaan sekitar yang melingkupi manusia, baik benda-benda seperti air, udara, bumi, langit, dan matahari; baik individu maupun kelompok manusia; ataupun pranata-pranata sosial seperti sekolah, peraturan-peraturan dan adat kebiasaan.

Dua faktor ini sebagaimana diterangkan oleh al-Syaibany, berinteraksi sejak manusia masih merupakan embrio hingga akhir hayat. Karena begitu kuat dan bercampur aduknya peranan dua faktor ini, sukar sekali untuk ditentukan secara pasti faktor mana yang berpengaruh terhadap perkembangan fisik ataupun tingkahlaku tertentu.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.s. al-Nahl:78)

Dari dalil diatas disiratkan bahwa keadaan tidak mengetahui sesuatu termasuk agama merupakan bagiian dari fithrah manusia yang berada pada awal fase kehidupannya. Adapula hadits Nabi yang menjelaskan.

Tidak ada seorang anak pun kecuali dilahirkan sesuai dengan fitrah, lalu kedua orang tuanya yang menjadikannya beragama Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi (H.R. al Bukhori dan Muslim)

Kalau kata fitrah dalam hadits diatas diartikan dengan beragam Islam, maka pengertian itu hendaknya didasarkan atas anggapan bahwa Islam sesuai tuntutan fitrah. Hadits tersebut mengandung arti bahwa orang tua (lingkungan) tidak hanya bisa menjadikan anak beragama Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi, melainkan juga bisa menjadikannya beragama Islam berdasarkan wahyu atau beragama Islam berdasarkan berdasarkan pencariannya dengan segala potensi yang ada padanya.
Di dalam pendidikan, fungsi pendidik adalah berusaha untuk menemukan jalan dan tujuan hidup peserta didik dengan cara memelihara dan mengarahkan fitrahnya serta seluruh bakatnya agar menjadi baik dan sempurna. Namun usaha tersebut akan berujung kepada ketidakberhasilan apabila tidak ditunjang oleh tugas-tugas atau peranan peserta didik itu sendiri. Karena peserta didiklah yang memainkan peran dalam perkembangan pribadinya.
Banyak ulama-ulama yang menaruh perhatian pada tugas-tugas atau peranan peserta didik diantaranya: Al Ghazali, Al Kanani, Al Abrasyi yang concerned kepada petunjuk tentang sifat ilmu yang dipelajari dan petunjuk tentang penciptaan situasi yang kondusif dan mendukung proses pendidikan yang berkisar pada kondisi batin yang dibina oleh ibadah dan akhlaq.[3]
Manusia sebagai peserta didik merupakan makhluk Allah yang memiliki fitrahnya sebagai bagian dari perkembangan kehidupannya serta sejalan dengan apa yang diperintahkan aleh Khaliqnya. Namun dalam kehidupannya, manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga akan mempengaruhi kepribadian serta tingkahlaku manusia tersebut.
Wallahu ‘alam bishowab
[1] Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung; Al ma’arif, 1980) cet. Ke-4,h.19

[2] Lihat M. Noor Syam, “Pengertian dan Hukum Dasar Pendidikan” dalam Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar Dasar Dasar Kependidikn, (Surabaya: Usaha Nasional, 1988), h. 8-10

[3] Lihat Hery Noer Aly,” Ilmu Pendidikan Islam”,(Jakarta: Logos Wacana Ilmu,1999) h. 129-133

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar